Aplikasi Braille dalam Penulisan Al-Qur'an: Mengenal Mushaf Standar Braille Indonesia

Ulasan ulang berdasarkan kajian Ahmad Jaeni (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Jakarta), Suhuf, Vol. 6, No. 1, 2013, hlm. 19-34.

Ringkasan

Artikel ini membahas cara sistem tulisan Braille dipakai untuk menuliskan Al-Qur'an, khususnya dalam Mushaf Standar Braille, yaitu mushaf yang disiapkan bagi saudara-saudara tunanetra Muslim di Indonesia. Pokok persoalannya menarik: Braille hanyalah sistem tulisan, sementara Al-Qur'an berbahasa dan beraksara Arab. Dari pembahasan ini tampak ciri-ciri umum yang membedakan Mushaf Standar Braille dari edisi Braille yang lain.

Latar Belakang: Tunanetra dan Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah bacaan utama umat Islam dan sumber petunjuk hidup, sehingga berbagai upaya dilakukan agar semua Muslim dapat membaca dan memahaminya, termasuk penyandang gangguan penglihatan. Pada masa awal Islam hingga beberapa abad sesudahnya, tunanetra belajar Al-Qur'an lewat pendengaran dan hafalan dengan cara talaqqi, yakni berguru langsung dan menirukan bacaan guru.

Keterbatasan itu tidak menghalangi mereka berkontribusi. Artikel menyebut sejumlah tokoh, seperti Abdullah bin Abbas (penafsir yang terkenal), Abdullah bin Ummi Maktum (penghafal yang kerap mendampingi Nabi), Imam Asy-Syatibi (qiraat dan rasm), Imam Ibnu Katsir (tafsir), dan Imam Adz-Dzahabi (hadis).

Karena tidak semua tunanetra memiliki daya hafal yang sama, dicarilah sistem tulis-baca yang bisa dipakai secara mandiri. Hasilnya adalah Braille, yaitu titik-titik timbul yang dibaca dengan ujung jari dan kini dipakai tunanetra di seluruh dunia.

Perjalanan Al-Qur'an Braille

WaktuPeristiwa
Maret 1950UNESCO menggelar konferensi internasional di Prancis untuk menyeragamkan Braille bagi bahasa-bahasa utama dunia, termasuk bahasa Arab.
12-17 Februari 1951Pertemuan regional UNESCO di Beirut kembali menyeragamkan Braille Arab karena masih ada perbedaan pandangan. Salah satunya soal arah baca, yang akhirnya disepakati dari kiri ke kanan.
1952Al-Qur'an Braille pertama dicetak di Yordania dan Mesir di bawah pengawasan ulama Al-Azhar. Kemudian menyusul Tunisia, Maroko, Qatar, Uzbekistan, Nigeria, Pakistan, Indonesia, Arab Saudi, Malaysia, dan Iran.
1954Al-Qur'an Braille Yordania tiba di Indonesia dan mulai disalin.
Akhir 1964Yaketunis Yogyakarta menerbitkan Al-Qur'an Braille pertama di Indonesia, mengikuti sistem Yordania dan berpijak pada rasm imla'i. Di sisi lain, Yayasan Wyata Guna Bandung menerbitkan versi yang mengacu pada mushaf awas dan berpedoman pada rasm usmani.
1984Keputusan Menteri Agama No. 25 Tahun 1984 menetapkan Mushaf Standar Braille. Sejak itu semua penyalinan dan penerbitan Al-Qur'an Braille di Indonesia merujuk ke mushaf ini.

Mengenal Sistem Braille

Nama Braille diambil dari penemunya, Louis Braille (wafat 1852), orang Prancis yang buta sejak berusia tiga tahun akibat sebuah kecelakaan. Ia anak yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu, lalu terus bereksperimen mencari cara tulis-baca yang cocok bagi tunanetra. Inspirasinya datang dari Charles Barbier, seorang kapten tentara Napoleon yang menciptakan tulisan sandi titik dan garis timbul bernama night writing sebagai alat komunikasi prajurit di medan perang. Temuan Braille kemudian diakui sebagai satu-satunya sistem tulis-baca tunanetra di dunia.

Setiap simbol Braille tersusun dari enam titik timbul yang diatur dalam dua kolom, masing-masing tiga titik, mirip susunan pada kartu domino. Dengan enam titik itu dapat dibentuk 26 = 64 pola berbeda, dan tiap pola bisa mewakili huruf, angka, simbol matematika, bahkan notasi musik.

Susunan enam titik pada satu sel Braille

Gambar 1. Susunan titik pada satu sel Braille (ilustrasi ulang)

Perlu diingat bahwa Braille bukan bahasa. Ia hanyalah sistem tulisan yang memungkinkan tunanetra menulis dan membaca berbagai bahasa, termasuk bahasa Arab, secara mandiri melalui perabaan jari.

Pedoman Transkripsi Arab-Braille

Simbol Braille untuk tulisan Arab distandardisasi UNESCO lewat konferensi regional di Beirut pada Februari 1951. Rumusan itu mencakup seluruh huruf hijaiyah beserta variannya, ditambah delapan tanda baris penting: fathah, kasrah, dammah, fathatain, kasratain, dammatain, sukun, dan tasydid (syaddah).

Tabel simbol Braille Arab untuk huruf hijaiyah

Gambar 2. Simbol Braille Arab untuk huruf hijaiyah (ilustrasi ulang berdasarkan standar UNESCO 1951)

Tanda baris dan simbol tambahan Braille Arab

Gambar 3. Tanda baris dasar dan simbol tambahan dalam Mushaf Standar Braille (ilustrasi ulang)

Pada umumnya, penulisan huruf Arab ke Braille mengikuti bunyi yang dilafalkan (phonetic spelling), bukan sekadar urutan hurufnya. Namun rumusan UNESCO belum mengatur harakat isyba'iyyah (fathah, kasrah, dammah yang dipanjangkan), tanda mad, tanda waqaf, dan tanda lain yang lazim dalam mushaf. Wilayah ini diserahkan kepada ijtihad masing-masing penyalin atau penerbit.

Rujukan Mushaf Standar Braille

Mushaf Standar Braille berpegang pada standardisasi UNESCO tadi, dengan acuan utama daftar transkripsi Arab-Braille di halaman awal Al-Qur'an Braille Yordania terbitan 1952, edisi Braille pertama yang dikenal di Indonesia. Delapan tanda baris di atas semuanya dipakai. Tambahan simbol di luar standar UNESCO adalah:

  • Harakat isyba'iyyah (fathah, kasrah, dammah): simbol dibuat belakangan dan tidak ada dalam pedoman UNESCO.
  • Tanda mad: juga simbol baru.
  • Tanda waqaf: tidak perlu simbol baru karena tersusun dari huruf hijaiyah, sehingga memakai simbol huruf yang sudah ada.

Harakat isyba'iyyah dan tanda mad pertama kali muncul pada Al-Qur'an Braille terbitan Pakistan, lalu dikenal di Indonesia lewat edisi Yaketunis, dipakai pula oleh Wyata Guna, dan akhirnya dibakukan. Bedanya ada pada cakupan pemakaian. Edisi Pakistan dan Yaketunis (berbasis rasm imla'i) memakai harakat isyba'iyyah secara terbatas, sedangkan Mushaf Standar Braille (berbasis rasm usmani) memakainya lebih luas, karena tanda itu berfungsi menggantikan huruf mad yang dibuang dalam rasm usmani. Tanda mad pun dipakai untuk beragam mad far'i, baik yang lazim, wajib, maupun jaiz, sedangkan edisi Pakistan hanya memakainya untuk mad lazim pada huruf muqatha'ah di awal surah.

Sekilas tentang Mushaf Standar Braille

Mushaf Standar Braille adalah satu dari tiga Mushaf Standar Indonesia berdasarkan KMA No. 25 Tahun 1984. Dua lainnya adalah Mushaf Standar Usmani dan Mushaf Standar Bahriyah, dan masing-masing sesuai dengan kelompok pembacanya.

Mushaf StandarCiri penulisanPengguna
BrailleSimbol Braille; rasm usmani (boleh rasm imla'i bila menyulitkan)Tunanetra
UsmaniRasm usmani dengan harakat penuhMasyarakat umum
BahriyahRasm imla'i dengan harakat tidak penuhPenghafal Al-Qur'an (pesantren tahfiz)

Mushaf ini lahir dari Musyawarah Kerja Ulama Ahli Al-Qur'an yang dilaksanakan Puslitbang Lektur Agama selama sembilan tahun (1974-1983). Para praktisi dari Yaketunis Yogyakarta dan Yayasan Wyata Guna Bandung terlibat aktif, mulai dari penyalinan naskah sampai pembahasan dalam sidang.

Secara garis besar, mushaf ini mencakup empat aspek: pola penulisan (rasm), harakat, tanda baca, dan tanda waqaf. Untuk rasm, dipakai rasm usmani seperti pada Mushaf Standar Usmani. Hasil Muker III/1977 memberi catatan bahwa rasm usmani dipakai selama tidak menyulitkan pengguna, dan bila menyulitkan boleh memakai rasm imla'i. Harakat, tanda baca, dan tanda waqaf mengacu ke Mushaf Standar Usmani, sedangkan penerapan Braille-nya mengadopsi pola Yaketunis dan Wyata Guna dengan beberapa penyesuaian. Dengan kata lain, mushaf ini adalah hasil penyatuan dua pola yang dulu berbeda, sekaligus rujukan utama penyalinan dan penerbitan Al-Qur'an Braille di Indonesia agar proses belajar-mengajar berjalan seragam.

Tata Cara Penulisan Al-Qur'an dalam Braille

Ada dua pola transkripsi, yang dalam Mushaf Standar Braille dipakai bersamaan.

PolaPengertianDipakai pada
Non-kontraktif (uncontracted / grade 1)Tanpa singkatan; satu huruf atau tanda ditulis dengan satu simbol, secara penuh.Huruf diikuti vokal pendek (fathah, kasrah, dammah), huruf bertanwin, huruf sukun, dan huruf bersyaddah.
Kontraktif (contracted / grade 2, "tulisan singkat")Memakai singkatan agar lebih ringkas, sehingga kecepatan baca meningkat.Huruf yang diikuti huruf mad (alif, waw, ya) dan dibaca panjang, serta huruf yang diikuti alif maqshurah.

Alasan adanya pola kontraktif: menurut penelitian yang dikutip artikel, pembaca Braille berpengalaman membaca sekitar 90-115 kata per menit, sedangkan pembaca visual mencapai 250-300 kata per menit. Karena itu sejak awal 1900-an muncul gagasan tulisan singkat. Batasan kata apa saja yang boleh dikontraksi memang belum ada aturan yang jelas, sehingga menjadi lahan ijtihad dan sumber perbedaan antaredisi.

Langkah menulis

  1. Tentukan arah tulis. Braille Arab dibaca dari kiri ke kanan, sesuai kesepakatan konferensi Beirut 1951.
  2. Tulis menurut bunyi. Transkripsi mengikuti pelafalan, lalu cocokkan dengan tabel simbol huruf (Gambar 2) dan tanda baris (Gambar 3).
  3. Pakai pola non-kontraktif untuk huruf dengan vokal pendek, tanwin, sukun, dan syaddah: tulis huruf dan tandanya secara penuh. Pada contoh mawaddatan, tanda syaddah tertulis sebelum hurufnya.
  4. Pakai pola kontraktif untuk huruf yang diikuti mad dan dibaca panjang, serta alif maqshurah. Harakat yang menyertainya tidak ditulis, tetapi hurufnya tetap ditulis.
  5. Periksa pengecualian. Bila huruf mad tidak dibaca panjang (misalnya ana saat dibaca washal) atau merupakan huruf za'idah (misalnya lisya'in), tulis penuh dengan pola non-kontraktif.
  6. Tambahkan tanda khusus bila diperlukan: harakat isyba'iyyah, tanda mad, dan tanda waqaf.
  7. Jaga rasm. Susunan dan jumlah huruf tidak boleh berkurang, sehingga kontraksi hanya boleh dilakukan pada harakat.
Alur menentukan pola transkripsi Arab-Braille

Gambar 7. Alur menentukan pola transkripsi Arab-Braille (bagan ringkasan, dibuat ulang)

Contoh 1: Pola non-kontraktif

Pada lafal bismi, ada tiga huruf dan tiga harakat, sehingga ditulis dengan enam simbol. Pada mawaddatan, ada empat huruf dan lima tanda, sehingga ditulis dengan sembilan simbol. Semua huruf dan tanda ditulis penuh.

Contoh pola non-kontraktif pada bismi dan mawaddatan

Gambar 4. Contoh pola non-kontraktif (ilustrasi ulang)

Contoh 2: Pola kontraktif pada bacaan mad

Lafal yatubu terdiri dari empat huruf dan empat harakat (total delapan), tetapi hanya ditulis dengan enam simbol, karena dua harakat pada huruf mad dan huruf sebelumnya tidak ditulis. Mushaf edisi Arab Saudi justru menulis kata yang sama secara non-kontraktif penuh, sehingga hasilnya delapan simbol. Inilah salah satu contoh perbedaan antaredisi, dan pola kontraktif Mushaf Standar Braille sama dengan edisi Yordania.

Perbandingan pola kontraktif dan non-kontraktif pada yatubu

Gambar 5. Perbandingan pola kontraktif (Mushaf Standar Braille) dan non-kontraktif (edisi Arab Saudi), ilustrasi ulang

Contoh 3: Pengecualian

Kaidah umumnya, huruf yang diikuti mad ditulis kontraktif. Namun jika huruf mad itu ternyata tidak dibaca mad, polanya kembali non-kontraktif. Hal ini menjaga kaidah lain bahwa huruf yang dibaca dengan vokal pendek ditulis secara non-kontraktif. Contohnya lafal ana (ketika dibaca washal) dan huruf za'idah seperti pada lisya'in.

Contoh pengecualian pada ana dan lisya'in

Gambar 6. Contoh pengecualian kaidah kontraktif (ilustrasi ulang)

Kesimpulan

  1. Pedoman transkripsi Arab-Braille dalam Mushaf Standar Braille mengacu pada rumusan Braille Arab yang disahkan UNESCO. Tanda yang tidak ada dalam rumusan itu, yaitu harakat isyba'iyyah, tanda mad, dan tanda waqaf, diambil dari Al-Qur'an Braille Pakistan yang sebelumnya diadopsi Yaketunis.
  2. Pola transkripsi memakai kontraktif dan non-kontraktif sekaligus. Dalam praktiknya, pola kontraktif hanya diterapkan pada syakl (harakat), sedangkan penulisan rasm memakai pola non-kontraktif secara ketat karena menyangkut susunan dan bilangan huruf.

Kedua hal tersebut menegaskan karakteristik Mushaf Standar Braille Indonesia yang bisa berbeda dari edisi lainnya.

Sumber

Jaeni, Ahmad. "Aplikasi Braille dalam Penulisan Al-Qur'an: Kajian atas Mushaf Standar Braille Indonesia." Suhuf, Vol. 6, No. 1 (2013): 19-34. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Kementerian Agama RI.

https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/33/33